Apakah kalian pernah mendengar sandwich generation?
Apakah kalian mengerti arti dari sandwich generation?
Atau jangan-jangan malah kalian termasuk sandwich generation?
Pertama kali gue mengetahui atau mendengar mengenai sandwich generation adalah dari akun penasihat finansial yang hits di instagram, yaitu Jouska. Sebelumnya gue gak pernah mendengar istilah ini sama sekali karena memang di keluarga dan lingkaran pertemanan gue tidak ada yang berminat membicarakan perencanaan keuangan.
Jadi apa itu sandwich generation?
Sandwich generation adalah generasi yang harus membiayai orang tua padahal mereka harus juga membiayai anak mereka (Merriam-webster).
Situasinya biasanya adalah pasangan yang sudah menikah, tidak menutup juga yang belum menikah, berusia 30-40 tahun, dengan tanggungan anak yang butuh dibiayai kehidupan dan pendidikannya. Pada saat bersamaan, pasangan tersebut juga memiliki orang tua yang sudah sepuh serta tidak berpenghasilan yang harus kita biayai kehidupannya.
Kondisi ini bisa diperberat bila ada saudara kandung atau kerabat pasangan yang juga harus ditanggung biaya kehidupannya. Situasi tersebut cukup sering ditemukan di keluarga Indonesia.
Berkat situasi ini, sandwich generation akan mempunyai beban finansial ganda. Ke bawah, generasi ini harus membiayai anak-anaknya, sedangkan ke atas generasi ini harus membiayai orang tua atau saudara kandungnya.
Penghasilan yang terbatas atau bahkan kurang mencukupi menambah berat beban finansial generasi tersebut. Terjebak hutang konsumtif serta tidak bisa menyiapkan dana darurat dan berinvestasi karena banyaknya tanggungan menjadi hal yang semakin memberatkan kondisi finansial para anggota sandwich generation.
Mengapa sandwich generation bisa terbentuk?
Sandwich generation dimulai oleh generasi orang tua yang tidak menyiapkan pensiunnya dengan baik. Beberapa hal yang berkontribusi terhadap ketidaksiapan para orang tua menghadapi pensiun antara lain:
1. Tidak punya perencanaan finansial jangka panjang yang baik
Perencanaan finansial jangka panjang yang baik akan sangat menunjang untuk menghadapi masa pensiun. Perencanaan tersebut meliputi investasi, dana darurat,dan asuransi. Kebanyakan dari para orang tua belum memiliki investasi yang memadai, bahkan memiliki pemahaman yang kurang terhadap investasi, Begitu pula dana darurat yang tidak selalu tersedia.
Yang lebih parah, para orang tua juga tidak memiliki asuransi yang memadai, sehingga ketika terjadi hal-hal yang tidak diharapkan, uang pensiun bisa tiba-tiba ludes.
2. Tidak mau menurunkan gaya hidup sesuai penghasilan
Ketika masih bekerja terbiasa dengan penghasilan 10 juta rupiah sebulan, tentu tidak mudah untuk mengubah gaya hidup bila penghasilan saat pensiun turun menjadi 5 juta rupiah sebulan. Akhirnya para orang tua rentan terjebak hutang konsumtif yang terus menumpuk atau bahkan bergantung pada kiriman uang dari anak-anaknya.
3. Terjebak investasi bodong
Zaman sekarang banyak sekali investasi-investasi bodong yang bermunculan. Dengan iming-iming keuntungan atau return bombastis, misalnya 10% per bulan, investasi bodong itu banyak menggaet orang-orang yang ingin cepat kaya tanpa berusaha.
Salah satu target dan kebetulan banyak yang sukses menjadi korban dari investasi bodong ini adalah para orang tua yang sudah pensiun atau mau menjelang masa pensiun. Bayangan hidup enak menggelayuti pikiran mereka bila investasi tersebut berhasil.
Sebenarnya masih banyak lagi alasan-alasan yang mendasari terbentuknya sandwich generation, misalnya gagal dalam berbisnis pasca pensiun, menganggap anak sebagai investasi, dll. Tapi intinya dari titik generasi orang tua inilah generasi tersebut terbentuk.
Cukup sulit bagi kita untuk memutus rantai ini di generasi orang tua kita, tapi tidak terlalu sulit untuk memutus rantai sandwich generation ini di generasi kita.
Mengapa rantai sandwich generation harus diputus?
Rantai sandwich generation ini akan mengecilkan potensi yang bisa didapat atau dimiliki oleh generasi ini.
Misalnya dengan penghasilan 10 juta rupiah dan hanya menanggung beban keluarga inti, kita bisa berinvestasi sebesar 2 juta rupiah dengan return 8% per tahun, sedangkan sebagai sandwich generation dengan kondisi yang sama kita hanya bisa berinvestasi sebesar 1 juta rupiah per tahun.
Dalam kurun waktu 10 tahun, generasi yang hanya menanggung keluarga inti akan menghasilkan 375 juta rupiah, sedangkan sandwich generation hanya akan menghasilkan 187 juta rupiah. Selisih 1 juta rupiah per bulan itu akan menghasilkan selisih hampir 200 juta dalam 10 tahun. Tidak terbayang kan apabila ternyata return-nya lebih besar atau kemampuan investasinya lebih tinggi?
Bagaimana cara mencegah keturunan kita menjadi sandwich generation?
Berusaha mencegah anak-anak kita menjadi sandwich generation adalah salah satu hadiah terbesar yang dapat kita berikan kepada mereka. Tetap mandiri di masalah keuangan pada usia tua merupakan salah satu cara agar anak kita dapat berkembang dan mencapai potensi keuangan maksimalnya. Beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mencegah agar anak-anak kita tidak menjadi sandwich generation antara lain:
1. Memiliki penghasilan memadai
Memiliki penghasilan yang mencukup untuk menanggung kebutuhan atau gaya hidup kita sehari-hari adalah hal paling mendasar yang dapat kita lakukan untuk memulai mencegah agar keturunan kita tidak menjadi sandwich generation. Apabila penghasilan kita tidak cukup untuk menanggung kebutuhan atau gaya hidup kita, dapat dipastikan keuangan tidak akan berjalan dengan sehat, bahkan rentan terjebak di dalam hutang konsumtif.
Bekerja sambilan, berbisnis, atau bekerja dengan lebih baik agar mendapat promosi jabatan merupakan usaha-usaha yang dapat kita lakukan dalam mengejar penghasilan memadai ini.
Ohiya, besarnya target penghasilan memadai itu dapat berbeda-beda pada setiap orang, tergantung pada kondisi dan situasi orang yang bersangkutan. Baiknya kita tidak menyamakan target penghasilan memadai setiap orang.
2. Merencanakan keuangan kita dengan baik
Hal-hal yang perlu kita perhatikan dalam merencanakan keuangan kita antara lain biaya pendidikan anak, dana pensiun, dan asuransi. Target keuangan juga perlu diperhatikan, misalnya berapa perkiraan biaya yang kita harapkan untuk menyekolahkan anak kita di setiap jenjangnya atau berapa uang per bulan untuk hidup yang kita harapkan sewaktu kita sudah pensiun.
Dalam perencanaan keuangan ini, komponen-komponen seperti investasi dan budgeting tidak boleh dilupakan. Pengelolaan gaya hidup dan prioritas juga termasuk ke dalam perencanaan ini, karena kadang gaya hidup kita yang mengacaukan perencanaan ini. Kita juga bisa menyewa jasa perencana keuangan bila dibutuhkan atau kita tidak punya waktu untuk mengelola keuangan kita.
Konklusi
Menjadi sandwich generation tentu bukanlah sesuatu yang kita harapkan, dapat dikatakan itu adalah beban yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sangat penting bagi kita untuk memutus rantai tersebut pada generasi kita agar kita tidak mewariskan beban yang sama ke anak-anak kita.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk tidak menghormati orang tua atau menyarankan untuk tidak berbakti atau berkontribusi terhadap keuangan kita. Tulisan ini hanya bermaksud untuk menyadarkan kita akan realita sandwich generation yang memang nyata. Bila anda termasuk ke dalam anggota sandwich generation tersebut, semoga anda dapat segera mengatasinya dan dapat memutus rantai tersebut pada generasi anda.
Adam Prabata
29 Juli 2019
Kobe, Jepang
Penghasilan yang terbatas atau bahkan kurang mencukupi menambah berat beban finansial generasi tersebut. Terjebak hutang konsumtif serta tidak bisa menyiapkan dana darurat dan berinvestasi karena banyaknya tanggungan menjadi hal yang semakin memberatkan kondisi finansial para anggota sandwich generation.
Mengapa sandwich generation bisa terbentuk?
Sandwich generation dimulai oleh generasi orang tua yang tidak menyiapkan pensiunnya dengan baik. Beberapa hal yang berkontribusi terhadap ketidaksiapan para orang tua menghadapi pensiun antara lain:
1. Tidak punya perencanaan finansial jangka panjang yang baik
Perencanaan finansial jangka panjang yang baik akan sangat menunjang untuk menghadapi masa pensiun. Perencanaan tersebut meliputi investasi, dana darurat,dan asuransi. Kebanyakan dari para orang tua belum memiliki investasi yang memadai, bahkan memiliki pemahaman yang kurang terhadap investasi, Begitu pula dana darurat yang tidak selalu tersedia.
Yang lebih parah, para orang tua juga tidak memiliki asuransi yang memadai, sehingga ketika terjadi hal-hal yang tidak diharapkan, uang pensiun bisa tiba-tiba ludes.
2. Tidak mau menurunkan gaya hidup sesuai penghasilan
Ketika masih bekerja terbiasa dengan penghasilan 10 juta rupiah sebulan, tentu tidak mudah untuk mengubah gaya hidup bila penghasilan saat pensiun turun menjadi 5 juta rupiah sebulan. Akhirnya para orang tua rentan terjebak hutang konsumtif yang terus menumpuk atau bahkan bergantung pada kiriman uang dari anak-anaknya.
3. Terjebak investasi bodong
Zaman sekarang banyak sekali investasi-investasi bodong yang bermunculan. Dengan iming-iming keuntungan atau return bombastis, misalnya 10% per bulan, investasi bodong itu banyak menggaet orang-orang yang ingin cepat kaya tanpa berusaha.
Salah satu target dan kebetulan banyak yang sukses menjadi korban dari investasi bodong ini adalah para orang tua yang sudah pensiun atau mau menjelang masa pensiun. Bayangan hidup enak menggelayuti pikiran mereka bila investasi tersebut berhasil.
Sebenarnya masih banyak lagi alasan-alasan yang mendasari terbentuknya sandwich generation, misalnya gagal dalam berbisnis pasca pensiun, menganggap anak sebagai investasi, dll. Tapi intinya dari titik generasi orang tua inilah generasi tersebut terbentuk.
Cukup sulit bagi kita untuk memutus rantai ini di generasi orang tua kita, tapi tidak terlalu sulit untuk memutus rantai sandwich generation ini di generasi kita.
Mengapa rantai sandwich generation harus diputus?
Rantai sandwich generation ini akan mengecilkan potensi yang bisa didapat atau dimiliki oleh generasi ini.
Misalnya dengan penghasilan 10 juta rupiah dan hanya menanggung beban keluarga inti, kita bisa berinvestasi sebesar 2 juta rupiah dengan return 8% per tahun, sedangkan sebagai sandwich generation dengan kondisi yang sama kita hanya bisa berinvestasi sebesar 1 juta rupiah per tahun.
Dalam kurun waktu 10 tahun, generasi yang hanya menanggung keluarga inti akan menghasilkan 375 juta rupiah, sedangkan sandwich generation hanya akan menghasilkan 187 juta rupiah. Selisih 1 juta rupiah per bulan itu akan menghasilkan selisih hampir 200 juta dalam 10 tahun. Tidak terbayang kan apabila ternyata return-nya lebih besar atau kemampuan investasinya lebih tinggi?
Bagaimana cara mencegah keturunan kita menjadi sandwich generation?
Berusaha mencegah anak-anak kita menjadi sandwich generation adalah salah satu hadiah terbesar yang dapat kita berikan kepada mereka. Tetap mandiri di masalah keuangan pada usia tua merupakan salah satu cara agar anak kita dapat berkembang dan mencapai potensi keuangan maksimalnya. Beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mencegah agar anak-anak kita tidak menjadi sandwich generation antara lain:
1. Memiliki penghasilan memadai
Memiliki penghasilan yang mencukup untuk menanggung kebutuhan atau gaya hidup kita sehari-hari adalah hal paling mendasar yang dapat kita lakukan untuk memulai mencegah agar keturunan kita tidak menjadi sandwich generation. Apabila penghasilan kita tidak cukup untuk menanggung kebutuhan atau gaya hidup kita, dapat dipastikan keuangan tidak akan berjalan dengan sehat, bahkan rentan terjebak di dalam hutang konsumtif.
Bekerja sambilan, berbisnis, atau bekerja dengan lebih baik agar mendapat promosi jabatan merupakan usaha-usaha yang dapat kita lakukan dalam mengejar penghasilan memadai ini.
Ohiya, besarnya target penghasilan memadai itu dapat berbeda-beda pada setiap orang, tergantung pada kondisi dan situasi orang yang bersangkutan. Baiknya kita tidak menyamakan target penghasilan memadai setiap orang.
2. Merencanakan keuangan kita dengan baik
Hal-hal yang perlu kita perhatikan dalam merencanakan keuangan kita antara lain biaya pendidikan anak, dana pensiun, dan asuransi. Target keuangan juga perlu diperhatikan, misalnya berapa perkiraan biaya yang kita harapkan untuk menyekolahkan anak kita di setiap jenjangnya atau berapa uang per bulan untuk hidup yang kita harapkan sewaktu kita sudah pensiun.
Dalam perencanaan keuangan ini, komponen-komponen seperti investasi dan budgeting tidak boleh dilupakan. Pengelolaan gaya hidup dan prioritas juga termasuk ke dalam perencanaan ini, karena kadang gaya hidup kita yang mengacaukan perencanaan ini. Kita juga bisa menyewa jasa perencana keuangan bila dibutuhkan atau kita tidak punya waktu untuk mengelola keuangan kita.
Konklusi
Menjadi sandwich generation tentu bukanlah sesuatu yang kita harapkan, dapat dikatakan itu adalah beban yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sangat penting bagi kita untuk memutus rantai tersebut pada generasi kita agar kita tidak mewariskan beban yang sama ke anak-anak kita.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk tidak menghormati orang tua atau menyarankan untuk tidak berbakti atau berkontribusi terhadap keuangan kita. Tulisan ini hanya bermaksud untuk menyadarkan kita akan realita sandwich generation yang memang nyata. Bila anda termasuk ke dalam anggota sandwich generation tersebut, semoga anda dapat segera mengatasinya dan dapat memutus rantai tersebut pada generasi anda.
Adam Prabata
29 Juli 2019
Kobe, Jepang




ayo segera bergabung dengan saya di D3W4PK
ReplyDeletehanya dengan minimal deposit 10.000 kalian bisa menangkan uang jutaan rupiah
ditunggu apa lagi ayo segera bergabung, dan di coba keberuntungannya
untuk info lebih jelas silahkan di add Whatshapp : +8558778142
terimakasih ya waktunya ^.^